Hoplite yunani

Jumat, 18 November 2011

Gajah Perang


war elephant
Gajah perang adalah gajah yang digunakan untuk berperang dalam sejarah militer di banyak negara di dunia pada zaman dahulu. Kegunaan gajah perang adalah untuk kendaraan dalam perang serta untuk mematahkan barisan dan menginjak-injak musuh. Penggunaan gajah dalam perang pertama kali dilakukan di India, ketika gajah disediakan sebagai salah satu sayap dari empat sayap dalam militer India.
Penggunaan gajah perang kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan ke barat di daerah Mediterania. Pada masa Peradaban Hellenis, gajah digunakan oleh Diadokhoi untuk menangkis serangan kavaleri. Di barat, penggunaan gajah untuk perang yang paling terkenal adalah oleh Jenderal Pirros. Gajah perang dalam jumlah besar juga digunakan oleh pasukan Kartago, terutama di bawah kepemimpinan Hannibal.

Seiring perkembangan zaman, taktik perang yang semakin modern ikut menurunkan nilai ofensif gajah. Selain itu, gajah pun semakin sulit didapat. Penggunaan gajah dalam perang di India juga berakhir ketika meriam dipergunakan, gajah pun hanya digunakan sebagai tenaga pembantu.
Dalam semua perang yang memakai gajah, umumnya gajah jantan selalu digunakan karena sifatnya yang agresif.

Gajah perang juga memiliki kelemahan. Gajah memiliki kecenderungan tersendiri untuk panik. Jika memperoleh luka yang sangat menyakitkan atau jika pengendaranya mati, gajah akan mengamuk dan berlari tak terkendali, serta bisa mengakibatkan kerugian pada kedua belah pihak yang sedang bertempur. Infantri Romawi yang berpengalaman kadang mencoba untuk memotong belalai gajah dengan tujuan membuat gajah tersebut panik dan berlari ke belakang barisan mereka sendiri. Skirmisher cepat yang bersenjatakan lembing juga sering berusaha menghalau gajah, karena lembing dan senjata sejenisnya dapat membuat panik gajah. Gajah perang kadang tak terlindungi pada bagian samping, karena itu infantri Romawi yang menggunakan api atau barisan tembiang yang banyak, misalnya Triarii, akan berusaha membuat gajah musuh memperlihatkan bagian sampingnya. Dengan begitu, gajah tersebut akan menjadi rentan terhadap tusukan tembiang atau lembingskirmisher. Olahraga kavaleri pancang tenda tumbuh dari rezim pelatihan bagi para penunggang kuda untuk melumpuhkan atau menghalau gajah perang. Salah satu metode terkenal untuk mengacaukan pasukan gajah perang adalah dengan menggunakan babi perang. Para penulis kuno percaya bahwa "gajah takut pada suara lenguhan babi" dan kelemahan tersebut banyak dieksploitasi. Di Megara, dalam Perang Diadokhoi, misalnya, pasukan Megara menumpahkan minyak pada sekawanan babi, membakarnya, dan mengusirnya ke arah pasukan gajah musuh. Gajah-gajah musuh menjadi panik akibat didatangi oleh kawanan babi yang melenguh dan terbakar.

Nilai guna gajah perang berbeda-beda bagi daerah barat dan timur. Di barat, misalnya Romawi, militer lebih mengutamakan kedisplinan infantri dan kavaleri berkuda. Sementara di timur, gajah perang lebih banyak digunakan karena mereka mengandalkan rasa takut dan teror untuk mengalahkan musuh. Pada abad kesembilan belas, adalah muncul tren untuk membandingkan perbedaan tersebut. Salah satu sejarawan berkomentar bahwa gajah perang "telah terbukti mudah gugup dan gampang waswas pada suara-suara tak dikenal dan karena alasan inilah gajah perang rentan memecah barisan dan melarikan diri."Meskipun demikian, penggunaan gajah perang yang berlangsung selama ribuan tahun menunjukkan bahwa unit ini memang berguna dalam medan pertempuran.

1 komentar: